19 Agt 2011

Risalah Zakat

Bismillahirrohmaanirrohim
ZAKAT
Definisinya:
Zakat adalah sebutan bagi harta yang dikeluarkan seseorang (muslim), merupakan HAQ ALLAH TA’ALA, untuk faqir (mustahiq) dan disebut ZAKAT karena mengharapkan keberkahan, kesucian jiwa dan perkembangannya dengan macam macam kebajikan.
Karena kata zakat itu diambil dari ZAKAA  yang berarti perkembangan, kesucian dan keberkahan, firman Allah Ta’ala dalam surat Attaubah ayat 103:


Artinya :” Ambillah sebagian harta mereka, merupakan shadaqah yang kamu bersihkan mereka dan kamu kembangkan mereka dengan shadaqah itu dan do’akanlah mereka itu , karena do’amu memberi ketenangan bagi mereka, dan Allah Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui”
Zakat adalah salah satu RUKUN ISLAM YANG KELIMA disebut berbarengan dengan shalat dalam 82 ayat Qur’an.
Zakat diwajibkan oleh Allah Ta’ala dalam kitab suci Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW serta Ijma ‘Ulama
Zakat wajib bagi setiap muslim yang merdeka, yang memiliki Nishab dari jenis harta kekayaan yang dikenakan wajib zakat.
Dan disyaratkan pada nishab (harta itu):
Merupakan selebihnya dari kebutuhan darurat yang mutlak (yang tidak bisa tidak) bagi setiap orang seperti pangan, sandang dan papan, kendaraan dan alat perusahaan.
Diperhitungkan haul hijriyah (mengendap selama satu tahun) dihitung dari hari mulai nishab serta genap nishab sepanjang tahun, bila ditengah tahun berkurang kemudian genap lagi maka dihitung haul itu dari hari genap nishabnya lagi, (keculai harta dagangan maka disyaratkan nishabnya itu pada akhir haul saja)
Kata imam nawawi
Mazhab kita (mazhab Syafi’i) Mazhab maliki dan  mazhab Hambali serta jumhurul ‘Ulama : disyaratkan pada harta yang diwajibkan zakat pada ainnya dan diperhitungkan haul seperti emas, perak dan ternak, adanya nishab sepanjang tahun. Apabila berkurang dari nishab ditengah tahun walau hanya sedetik, maka haulnya terputus, dan bila genap kembali, maka haulnya dimulai lagi dari waktu genap nishabnya
Kata Imam Abu Hanifah :
Yang diperhitungkan (dalam wajib zakat) ialah nishab pada awal haul dan akhirnya saja, tidak apa apa kurang dari nishab pada pertengahan haul, sehingga bila seseorang memiliki domba 40 ekor pada awal haul, kemudian hilang semuanya tinggal 1 ekor saja kemudian ditambah lagi dan pada akhir haul mencapai 40 ekor lagi, atau memiliki 200 dirham pada awal haul kemudian habis tinggal 1 dirham saja kemudian bertambah lagi menjadi 200 dirham pada akhir haul, maka wajib dizakati semuanya
Dan syarat haul ini tidak dikenakan kepada zakat padi dan buah buahan , karena zakatnya diwajibkan pada waktu panen, firman Allah Ta’ala:
Artinya :”Dan bayarlah Haqnya (zakatnya) pada waktu panennya”

Kata syaikh al Abdarie :
Harta zakat itu ada 2 macam yaitu:
1.    yang berkembang dengan sendirinya seperti padi padian dan buah buahan, maka wajib zakatnya karena wujudnya (panennya)
2.    yang dipersiapkan untuk berkembang seperti uang (dirham dan dinar), aset perdagangan dan ternak, ini zakatnya pada akhir haul, tidak wajib zakatnya sebelum masuk haul, demikian kata guqoha seluruhmya.
Menanamkan pada dalam (interval) satu tahun dua kali (atau lebih) dijumlahkan (dalam menghitung nishabnya) bila dua kali panennya jatuh dalam waktu satu tahun juga
I’anatuttholibin II 167
Contoh
Menanam pertama pada awal Muharram, kemudian panennya pada bulan Jumadil Awal, terus menanam kedua pada bulan Rajab dan panen kedua jatuh pada bulan Dzulhijjah. Apabila hasil pertama tidak mencapai nishab (750 Kg Beras ) maka hasilnya dijumlahkan dengan hasil panen kedua. Apabila jumlahnya mencapai nishab(750 Kg Beras) wajib dikeluarkan zakatnya seluruhnya pada waktu panen yang kedua (bulan Rayagung umpamanya) imam Hanafi membolehkan zakat duakali dalam satu tahun dari panen yang pertama dan kedua.

ZAKAT FITRAH
Zakat fitrah ialah zakat yang wajib akibat tamat bulan Romadlon, wajib bagi setiap muslim (anak kecil atau orang tua laki laki atau perempuan, orang merdeka atau abid) yang mengalami hidup serta Islam pada bulan Romadlon dan Syawal.
Himahnya: diwajibkan zakat fitrah pada bulan Sya’ban tahun 2 Hijriyyah, demi membersihkan orang puasa dari kemungkinan ada laghwi (pekerjaan atau perkataan salah) dan Rofats (pekerjaan atau perkataan yang jorok atau porno) dan demi menyantuni faqir dan orang yang kepepet.
Riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah dan Daroquthni dan Ibnu Abbas RA katanya: Rasulullah SWA memfardlukan zakat fithrah, demi membersihkan orang yang shaum dari perkataan atau perbuatan yang tidak baik, perkataan dan perbuatan yang jorok
Menurut Qaul Adzhar memberikan zakat kepada Imam itu lebih afdhol karena dia lebih mengenal mustahiqqin dan lebih mampu membagikan dan memeratakannya, dan penerimaan zakat oleh imam sah dengan yakin. Lain halnya orang yang membagikan sendiri karena dia terkadang memberikan kepada bukan mustahiq. (kecuali Imamnya tidak adil dalam bab zakat)
Tuhfah III hal 254

Bila Imam meminta zakat harta zohir, maka wajib meyerahkannya kepada (tidak ada khilafiyah ulama) .
(kata kata Jairon atau tidak adil dalam bab zakat meskipun adil pada bab lainnya) itu lebih afdol dibagikan sendiri. Masalah ini pada harta batin bila imam tidak memintanya. Apabila Imam memintanya atau pada harta zohir (meski Imam tidak memintanya) mereka menyerahkan kepada Imam itu lebih Afdhol (meskipun tidak adil diluar bab Zakat)
Qulyubi II hal 42

Sasaran ashnaf
Sasaran zakat ada delapan ashnaf yang disebut oleh Firman Allah Azza wa jalla dalam kitab suci Al-Qur’an :
“sesungguhnya shadaqat (zakat) hanya untuk para faqir, para miskin, Amiilin atas zakat, para muallaf (yang dijinakkan hatinya) , dan dazlam pembebasan budak belian , danmeeka yang punya hutang serta dalam proyek fisabilillah dan ibnu sabil (mereka yang kehabisan bekal dalam perjalanan) hal itu merupakan ketentuan dari Allah dan Allah maha mengetahui lagi maha bijak bestari”
Attaubah ayat 60
Dan boleh seseorang memberikan zakat harta batin seperti emas perak barang dagangan dan RIKAZ (dibagikan sendiri atau wakilnya) dan disamakan oleh ulama dengan hartabatin yaitu zakat fitrah. Dan itu yang dimaksud oleh mereka bahwa zakat fithrah termasuk harta batin, seperti kata Imam Nawawi , mungkin penyusun kitab ini mengikutinya.
Demikian juga harta zohir yaitu ternak, padi dan pertambangan (boleh dibagikan sendiri zakatnya) bila tidak diminta oleh Imam (Amilin). Bila Imam memintanya WAJIB MEMBERIKAN KEPADA IMAM, meskipun hukum asalnya boleh, karena ta’at kepada Imam (hukumnya menjadi wajib) lain halnya dengan zakat harta batin, karena harta batin itu tidak terlihat.
MENYERAHKAN ZAKAT HARTA ZOHIR DAN BATIN KEPADA IMAM ITU LEBIH AFDOL DARIPADA MEYERAHKANNYA KEPADA MUSTAHIQQIN OLEH PEMILIKNYA SENDIRI)bila Imamnya adil dalam mengelola zakat) karena Imam lebih mengetahui mustahiqqin dan lebih mampu memeratakannya serta yakin bebasnya muzakki dengan menyerahkannya kepada Imam, dan bila ada Imam (amilin) dan sa’i (jaz) maka memberikan zakat kepada Imam itu lebih utama.
Demikian kata Al-Maward, diambil dari Asnal Matholib


Sasaran (ashnaf) delapan itu adalah :
1.    Faqier
2.    Miskin
3.    Amilin Zakat
4.    Muallaf
5.    Riqob
6.    Ghorimin
7.    Sabilillah
8.    Ibnu sabil


Dan definisi dari masing masing bagian itu adalah :

1.    Faqier
Ialah mereka yang tidak punya harta sama sekali dan tidak punya perusahaan yang mencukupi (separuh) kebutuhannya.

2.    Miskin
Ialah orang yang mempunyai harta atau usaha yang hasilnya menculupi separuh lebih kebutuhannya. Tetapitidak mencukupinya, yang dimaksud dengan kebutuhannya ialah kecukupan sampai sisa umurnya yang galib yaitu 62 rahun (bagi yang tidakbisa usaha) yang diperhitungkan yaitu kekayaannya (apabila umurnya telah melewati umur galib) maka yang diperhitungkan kebutuhan satu tahun, berupa pangan, sandang dan papan dan yang lainnya yang tidak terlepas dari kehidupan bermasyarakat untuk keperluan dirinya dan keluarganya (yang wajar) tanpa berlebihan dan kekurangan .
3.    Amilin.
Ialah mereka yang diangkat oleh pemerintah (Imam) untuk mengambil zakat dan memberikannya kepada mustahiqnya, sebagaimana perintah Allah Ta’ala. Boleh dia mengambil zakatbila memenuhi syarat amilin. Syarat syarat amilin antara lain. Mengerti fiqih zakat sehingga mengetahui harta apa saja yang wajib dizakati nishab qadar wajibnya, waktu mengeluarkannya, haul panen dan mustahiqnya, dan harus amanah, amien atau terpercaya dan jujur, sertamerdeka. Karena jabatan amilin itu kekuasaan, jadi amilin tidak boleh abid, fasiq seperti pemabuktukang memeras, dan petugas yang zalim, dan disyaratkan beragam islam, sebab firman Allah ta’ala;

Artinya :
“janganlah kamu mengangkat teman dekat selain golonganmu:”
Kifatatul Akhyar (diringkas) hal 199

Amilin tetap mustahik meskipun dia kaya. Syaratnya adil, bisa menjadi saksi dan faqih yaitu mengerti peraturan zakat (keculai bila ditugasi khusus mengambil zakat tertentu dari orang tertentu pula atau ditugasi khusus) maka tidak disyaratkan faqih zakat, merdeka dansifat laki laki. Tapi hanya disyaratkan Islam saja dan disyaratkan BUKAN BANI HASYIM dan MUTHOLIB dan bukan orang yang dimerdekakan mereka, dan bukan murtaziq (yang mendapat gaji dari baitul mal).

4.    Muallaf:
Ialah seorang muslim yang masih lemah keislamannya atau mempunyai pengaruh (ditaati) di Keluarganya.
Minhajul Muslim 271
5.    Riqob :
Ialah seorang hamba sahaya muslim yang membeli dirinya (dari tuannya) diberi zakat agar menjadi merdeka di Jalan ALLAH atau seorang muslim mukatab (menyicil dirinya) diberi zakat untuk membayar cicilandirinya agar menjadi merdeka kemudian.
Minhajul Muslim

6.    Ghorimin:
Ialah mereka yang punya utang bukan untuk ma’siat kepada Allah dan Rasulullah (dant tidak mampu membayarnya) atau orang yang punyautang untuk kepentingan agama seperti mendamaikan sengketa atau mendirikan bangunan keagamaa, meskipun mampu membayarnya
Minhajul Muslim 271

7.    Fisabilillah
Sabilillah ialah seriap amal untuk mencapai ridlo Allah dan surganya, tertama jihad li i’lai kalimatillah. Pejuang fisabilillahdiberi zakat (meskipun kaya) dan bagian ini mencakup kepada setiap kebajikan (masholih syar’iyyah umum) seperti membangun mesjid, rumah sakit Islam, madrasah, dan rumah yatim piatu. Namun tetap harus diutamakan program jihad seperti membeli senjata melatih muktahid, bekal dan kendaraan perang dan segala keperluan jihad dan  perang sabilillah.
Minhajul Muslim 271

Sabil ialah jalan yang menuju mardlottillah dan pahalanya. Yang dimaksud disini para sukarelawan pejuang yang selalu siap siaga untuk jihad.
Diriwayatkan dari Imam Ahmad, beliau menetapkan ibadah haji sebagai SABILILLAH dan termasuk semua wujuhul khoir semua jalan kebajikan, seperti kafan mayit, membuat jembatan, mendirikan benteng, memakmurkan mesjid dna lain sebagainya.
Sebenarnya yang dimaksud dengan sabilillah ialah kepentingan umum ummat Islam demi tegaknya agama dan negara (bukan kepentingan pribadi) seperti pengamanan perjalanan haji , dan memenuhi bekalnya, sarana kesehatan haji, (kalau tidak ada lagi sasaran lain) tidak termasuk haji pribadi, sebab haji hanya wajib bagi mustathi (yang mampu saja)
Al- Marogi IV hal 145

8.    Ibnu Sabil
Ialah mereka yang bepergian yang jauh dari kampung halamannya (kehabilan bekal ) maka diberi zakat seperlunya diperjalanan (meski dia kaya dikampungnya)
Dengan ikhtisar dari Mihajul Muslim 271


KAPAN JATUHNYA WAJIB ZAKAT FITRAH
Sepakat fuqoha bahwa zakat fithrah jatuh wajibnya pada akhir bulan Romadlon (pergantian Romadlon dengan Syawal) dan fuqoha berselisih faham dalam batas  waktunya.
Berkata Imam Sufyan At Tausary, Imam Ahmad, Imam Ishaq Rohawaih, Imam Syafi’i dan salah satunya riwayat Imam Malik bahwa waktu wajibnya itu waktu buka dari bulan Romadlon.
Dan boleh ta’jiel (mempercepat membayar zakat fithrah) satu atau dua hari sebelum ied. Kata Imam Syafi’i boleh sejak masuk bulan Romadlon. Kata Imam Abu Hanifah boleh sebelum bulan Romadlon.
Dan sepakat para Imam bahwa zakat fitrah tidak gugur karehna terlambat dari waktunya setelah jatuh wajib malah tetap menjadi hutang orang yang berkewajiban zakat fitrah sampai dibayar sampai akhir hayat.

ADAB (TATA KRAMA) ZAKAT
Membayar zakat pada waktunya (bila zudah mungkin) itu hukumnya wajib,  seketika itu (jadi dosa bila terlambat) karena demikian perintah Allah Ta’ala, dan karena melaksanakannya memenuhi kebutuhan mustahiqqien.
Tapi Zakat Fithrah boleh dibayar sepanjang malam dan siang Iedul Fitri, sebagaimana dijelaskan nanti.
Dan demi menyantuni kaum nestapa. Barang siapa yang membayarnya sebelum shalat (ied) maka itulah zakat Maqbulah dan barangsiapa yang membayarnya setelah shalat maka itu sebagian dan shadaqah (biasa)
Atas siapa wajibnya zakat fitrah?
Wajib atas setiap muslim yang merdeka, yang memilliki sekadar satu sho’ (kulak atau 2 ½  kilogram) selebihnya dari bekalnya dan bekal keluarganya dalam waktu sehari hari satu malam (malam Iedul fithri dan siangnya). (ini menurut madzhab Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad)
Dan wajib membayar zakat fithrahm untuk diri muzakki dan untuk tiap orang yang wajib dinafaqahinya seperti istrinya, anak anaknya (yang belum baligh atau tidak punya harta) dan para pembantu rumahtangganya yang digaji  dengan makan.

Besarnya zakat fitrah 1 sho (2 ½ kilogram) terigu, jelai, kurma, anggur, keju, beras, jagung, dan sebagainya (yang dipakai makanan pokok)

SASARAN ZAKAT FITRAH
Zakat fithrah dalam mazahab Imam syafi’i dan mayoritas pengikutnya wajib diberikan kepada delapan ashnaf seperti zakat lainnya.
Kata Al- Usthukhri: bila zakat fithrah diserahkan kepada Imam atau Sa’i (amilin) maka wajib kepada Imam membagi semua ashnaf dengan merata sebab zakat fithrah menjadi banyak (berkumpul ditangan merdeka) tidak sulit membagi dengan merata.
Majmu’ VI 214

“Dan zakat itu diberikan kepada sekelompok mana saja dari ashnaf delapan demikian juga zakat fitrah untuk semua ashnaf yang ada”
Bujairiy Iqna’ II/312
Zakat hanya diberikan kepada mereka (ashnaf delapan ) tikda boleh kepada yang lain dan tidakb oleh kepada sebagiannya saja, tapi wajib semuanya merata, namun tidak ragu lagi bahwa hal tersebut itu sulit dilaksanakan, terutama zakat fitrahnya
Nihayatuzzain 182

Apabila Imam atau Sa’i (amilin) membagikan zakat fithrah atau zakat mal maka diwajibkan membagikannya kepada ashnaf yang ada . tidak boleh tertinggal satu ashnaf pun . tidak ada khilafiyah ulama,
Majmu VI 147
Wajib merata semua ashnaf, bila semua ashnaf delapan ada maka wajib tiap ashnaf mendapat satu perdelapan. Bila hanya ada lima ashnaf,  maka setiap ashnaf mendapat satu per limanya. Tdiak boleh mengutamakan satu ashnaf, dan tidak ada khilafiyah pada ulama kita.
Apakah kebutuhan dan jumlah mereka itu sama atau tidak, dan tidak dikecualikan dari hukum ini selain amilin karena hak amilin itu ialah upah yang wajar dan selain muallaf karena menurut sebuah qaul, haq mereka itu gugur
Memberikan zakat
Masalah iman balfaqieh, jufrei dan kurdie
Boleh menyerahkan zakat kepada sulthan meskipun tidak adil, atau menyalurkan kepada yang tidak berhaq, apabila sulthan itu menerimanya dengan nama zakat dansah kekuasaannya serta kuat wibawanya, resmi jabatan kepeminpinannya dengan Istkhlaf (penerus) dipilih atau mengangkat diri (taghollub dzi syaukah) . tapi (pada keadaan sulthan tidak adil ) membagikan zakat oleh pribadi atau wakil leibu utama, keculai bilasulthanmemnitanya (zakat) dari harta zohir yakni ternak dan hasil bumi dan pertambangan. Bila sulthan memnitanya maka wajib menyerahkannya, bukan hanya boleh. Meski dia terang terangan menyalurkan ke kefasiqannya
Bughyatul mustarsyidin 104
Imam menerima zakat karena jabatnnyabukan sebagai wakil mustahiq. Dengan dalil bahwa diatidak tergantung kepada permintaanmustahiqqin, demikian diterangkan oleh alqodli dalam kitab Ta’lieq sedangkan perkataan yang lain jelas berbeda  (pendapat).
Asnal Matholib I 358

(Perkataan) Al-Amilien ialah mereka yang diangkat oleh Imam untuk menjalankantugas PENGELOLAAN shodaqoh (zakat dll) bila mereka diberi upah dari baitul mal atau diberi gaji yang lain, mereka tidak boleh mengambil zakat
Dan bila imam membagikan, maka wajib atasnya 4 hal :
1.    Merata kepada seluruh ashnaf delapan bila ad.
2.    Tiap tiap ashnaf wajib merata kebagian bila hartanya mencukupi, tapi bila tidak mencukupi (bila dipaksakan dibagi semua, tiap orang tidak terpenuhi kebutuhannya) maka tidak wajib merata. Namun diutamakan mereka yang sangat membutuhkandan seterusnya.
3.    Wajib menyamakan antar ashnaf yang mutlak,  kecuali amilin mereka diberi sekedar upah yang wajar .
4.    Wajib merata atau sama antar perorangan ashnaf bila kebutuhannya sama, dan bila tidak semua ashnaf ada (hanya sebagian saja yang ada ) maka wajib merata antar yang ada saja.
Apabila kebutuhan mereka tidak sama, maka faqier dan miskin diberi gabian (sekedar keperluan) dalam sisa umur ghalibnya yaitu sampai umur 62 tahun hijriyyah
Walhasil :
1.    Memeratakan semua ashnaf bila ada.
2.    Memeratakan tiap ashnaf
3.    Menyamakan antar ashnaf secara mutlak
4.    Menyamakan tiap agnggota ashnaf bila kebutuhannya sama


NIAT WAKTU MENGELUARKAN ZAKAT
Tidak sah mengeluarkan zakat kecuali dengan niat, karena sabda Rasulullah SAW :
“Sesungguhnya sahnya amal itu dengan niat, dan bagi tiap orang apa yang diniatinya.”
Dan karena zakat itu ibadah mahdloh (murni) maka tidak sah tanpa niat seperti shalat, dan mengenai waktunya ada dua pendapat :
1.Wajib niat pada waktu memberikannya karena zakat itu ibadah yang dimulai dengan pelaksanaannya , maka wajib niat pada mulai pelaksanaannya seperti shalat.
2. Boleh mendahulukan niat atas pelaksanaannya, karena boleh mweakilkan pembagiannya, dan niatnya tidak berbarengan dengan pelaksanaan wakil, jadi boleh mendahulukan niatnya, lain halnya dengan shalat.
Dan syarat pelaksanaan zakat ada 2:
1.    Niat dengan hati, tidak harus diucapkan (seperti : ini zakat hartaku) tidak perlu niat bareng dengan memberikannya. Tidak disyaratkan itu, dan cukup niat sebelum memberikannya (asal ada niat pada waktu memisahkan zakat dari harta yang dizakatinya) atau pada waktu menyerahkannya kepada Iman wakil.
2.    Memberikannya kepada mustahiqnya, ya’ni ashnaf yang ada dari delapan ashnaf

Bila diserahkan kepada Imam tapi tidak niat zakat, maka dalam hal seperti ini ada dua pendapat ulama. Pertama zakatnya sah saja sebagaimana zohir nash, sebab Imam tidak diserahi kecuali shadaqah wajib, maka cukup dengan zohir tidak perlu niat.
Pendapat kedua (dan ini qaul azhar) sebagian ashhabsyafi’i mengatakan tidak cukup karena Imam itu wakil faqir miskin, sedangkan bila diberikan kepada faqir, tidak sah kecuali memakai niat pada waktu menyerahkannya,. Demikian juga bila disrahkan kepada wakil faqir (imam). Ta’wil Ulama yang berpendapat ini ialah Qaul Imam Syaf’i r.a untuk orang yang menolak zakat kemudian diambil paksa oleh Imam, maka zakatnya sah, karena sulit niatnya orang tersebut, maka niat imam sama dengan niatnya.
Al- Mazhab 1/170
Seyogyanya bila muzakki niat setelah harta diserahkan kepada Imam tapi sampainya kepada mustahiq sesudah niat muzakki dinyatakan sah.
Menurut pendapat ashoh (yang kuat) bahwa niat sulthan (imam) cukup sebagai pengganti niat muzakki yang menentang zakat (lahirbatin) karena sulthan  dapat memaksa, maka sulthan mempunyai kedudukan seperti muzakki dalam kekuasaan membagi zakat.
Tuhfatul Muhtaj II / 205-251

(YANG KEDUA) bila pemilik harta atau yang lainnya menyerahkan zakat kepada mustahiq tanpa berkata ini zakat dan tidak berkata apa apa sama sekali itucukup. Dan jatuh menjadi zakat. Inilah mazhab yang shsih yang diputuskan oleh jumhur (mayoritas) Ulama

NAQLU (MEMINDAHKAN ZAKAT)
Pemilik tidak boleh memindahkan zakat dari tempatnya ke tempat lain, meskipun dekat. Bila ditempatnya terdapat mustahiq. Adapun Imam, boleh baginya memindahkan zakat
Ad-Dien Waz Zakat 106
Adapun Imam, Maka boleh (meskipun dengan wakilnya) memindahkan zakat secara mutlak.



Zakat Dengan Uang
(Far’un) telah aku terangkan bahwa tidak boleh (dalam Mazhab Kita) mengeluarkan zakazt dengan uang (harganya) . semua ashhab Syafi’i, ini kecuali dalam keadaan darurat, diantarnya keadaan daruruat yang membolehkan zakat dengan uang, yaitu bila ditetapkan oleh sulthan dengan uang. Dan beliau mengambil zakat dengan dari uang dari muzakki. Maka uang (uangnya ) itu mencukupi
(Keenam) tidak boleh membayarkan harga pada semua macam zakat, kecuali pada beberapa tempat atau keadaan yang khusu yang telah diterangkan pada bab zakatternak. Wallahul a’lam
Majmu’ VI / 223

Dan boleh mengeluarkan zakat dengan harganya (uang ) dari harta emas dan perak. Malah ini lebih afdol, karena hal itu lebih bermanfaat bagi faqir miskin
Zakat fithrah wajib atas setiap orang (muslim yang hidup dibulan Romadlon dan syawal) 1 sho’ dari makanan pokok yang biasa dimakan oleh kebanyakan orang ditiap negara (kecuali bila mengeluarkan jenis yang lebih tinggi nilainya, itu lebih afdol) . 1 sho’ itu diperkirakan 5 kati setengah (kati Baghdad)terigu, jelai, beras, tepung. Dan boleh diganti harganya tunai.
Ashshiyamu waz zakat 50


Waktu mengeluarkan zakat
Dan boleh mendahulukan mengeluarkan zakat fithrah sejak awal Romadlon, karena zakat fitrah itu wajib dengan dua sebab, yaitu shaum atau masuk bulan Romadlon dan tamat bulan Romadlon. Bila salah satu dua sebab telah terwujud bolehlah mendahuylyukan nya atas sebab yang satu lagi. Seperti zakat mal setelah nishab, sebelum haul.
Dengan ringkas dari Muhadzab 1/162
Kesimpulannya:
Zakat fitrah mempunyai 5 waktu:
1.    Waktu jawaz yaitu sejak awal Romadlon boleh ta’jil zakat fitrah. Tidak boleh mengeluarkan Romadlon.
2.    Waktu wajib yaitu dengan mengalami akhir Romadlon dan mengalami awal Syawal
3.    Waktu sunat yaitu sebelum shalat ‘Iedul Fithri
4.    Waktu Makruh yaitu setelah shalat ‘Ied sebelum habis hari ‘Ied . karena makruh mengakhirkannya dari shalat Ied tanpa uzur seperti menunggu kerabat atau orang yang lebih membutuhkan fithrah
5.    Waktu haram yaitu setelah usai hari lebaran. Karena sesungguhnya haram mengakhirkan fitrah dari hari ‘iedul Fitri, dan hukumnya jadi Qodlo ‘ala faur (seketika) bila terlambatnya tanpa uzur, dan bila dengan uzur maka wajib qodlo ‘ala tarokhi (santai)

Menyerahkan Zakat Kepada Imam

Menurut Qaul Adzhar :
Bahwa menyerahkan zakat kepada Imam ( BAZ ) itu lebih Afdhol, karena Imam itu lebih tahu tentang musthaiq, dan lebih mampu membagikan dengan merata. Penerimaan zakat oleh Imam sah dengan yakin, lain halnya bila dibagikan sendiri, karena mungkin memberikan kepada yang bukan mustahiq, kecuali bila Imam tidak adil dalam mengelola zakat. (kata bahwa menyerahkan kepada imam ) itu sama saja harta zohir atau harta bathin. : “Ali Syibromalisi” perkataan matan.
Tuhfatul Muhtaj III/345

Kemudian ketahuilah bila sulthan yang adil meminta agar zakat dikirimkan kepadanya, maka wajiblah menyerahkannya kepada Dia, dan kewajiban muzakki menjadi bebas dengan memberikan zakat kepadanya. Tanggung jawab menjadi kewajiban sulthan dalam pembagian zakat dalam pembagian zakat itu. Dan seperti itu (hukumnya) bila diminta oleh sulthan yang tidak secara adil karena dikhawatirkan fitnah dan perpecahan umat.
 Kemudian bila sulthan membagikan zakat kepada mereka yang ditetapkan oleh Allah berhak menerima zakat, yaitu mereka yang ada dari ashnaf delapan (dengan benar) maka Allah memberikan pahala kepada sulthan dengan pahala yang besar, dan memberi pahala kepada muzakki dengan pahala yang sama (besarnya). Dan apabila silthan membagikannya kepada yang tidak berhak menerima zakat menurut Allah dalam firmannya INNAMASH SHODAQOTU LIL FUQORO’I WAL MASAAKIINI dst.maka sulthan itu berdosa besar dan zalim dengan kezaliman yang nista. Dia zalim kepada orang kaya (muzakki) dengan menyalurkan zakat mereka ke jalan yang salah, dan zalim kepada faqir miskin (mustahiq) dengan menghalangi hak mereka yang ditetapkan oleh Allah untuk mereka dari kekayaan orang kaya (dari hamba hamba Allah)

ZAKAT DAN PEMBANGUNAN MASJID
1.    Bila masjid yang akandibangun atau dimakmurkan iut merupakan satu satunya mesjid dikampung itu, atau meskipun ada lagi mesjid namun tidak mencukupi kebutuhan umat sehingga mereka membutuhkan mesjid lagi, maka sahlah menyalurkan zakat untuk membangun mesjid itu(ini qaul Imam Qoffal) penyaluran zakat dalam hal ini atas nama mustahiq FISABILILLAH dalam ayat mashorif zakat pada surah At Taubah
2.    Hal tersebut diatas didasarkan atas ikhtiyar ulama bahwa yang dimaksud dengan kalimat FI SABILILLAH ialah masolihil ‘ammah atau kepentingan umum ummat yang dimanfaatkan oleh muslimin secara total (kaffah) tidak khusus perseorangan tertentu, sehingga bisa mencakup pembangunan rumah sakit Islam sekolah agama, pesantren, pabrik senjata atau perabotan, perlongkapan perjuangan, dan segala yang bermanfaat untuk orang banyak
3.    Kata imam Fakhrur Rozy dalam tafsirnya, seperti beliau mengumpulkan beberapa pendapat ulama tentang sabilillah, “ketahuilah bawa zohir lafaz dalam firman Allah fisabilillah tidak pasti hanya terbatas kepada sukarelawan dan lainnya”. Karenanya Imam Qoffal dalam tafsirnya dar isebagian Qurro bahwa mereka membolehkan menyalurkan zakat untuk semua jalan kebajikan seperti mengkafani mayit, membangun benteng dan memakmurkan masjid. Karena kalimat fisabilillah itu umum untuk semua, dan inilah yang aku pilih (ikhtiyar) dan dengan tenang hati aku fatwakan

BEBERAPA CATATAN:
Zakat Perdagangan
Ditambah atas syarat syarat yang lalu menjadi 5 syarat:
Harta dagangan harus dimiliki dengan jalan jual beli, dengan emas atau perak atau dengan benda lain, dengan tunai atau hutang (seperti hasil perdamaian atau shuluh dari niat, atau hasil upah kerja, atau hasil sewa benda miliknya dst.)
Ats- Tsimarul Yani’ah
Zakat perseroan :
Menurut Syafi’iyyah
Bahwa tiap perseoran (dari dua macam perseroan) itu mempengaruhi hukum zakat, dan harta para pesero yang digabungkan menjadi satu (seperti harat seseorang) kemudian pengaruh kena terhadap wajib zakat.
Fiqhussunnah 371
Membayar pajak dengan niat zakat
Fatwa penyusun kitab Irsya Syeikh Al Kamalur Roddad tentang orang yang membayar pajak kepada Pemerintah dengan niat Zakat, kata beliau TIDAK CUKUP ATAU TIDAK SAH SELAMA LAMANYA
Tuhfatul Muhtaj III/351

BERDOA PADA WAKTU MENERIMA ZAKAT
Dengan do’a apa saja boleh, kata Imam Syafi’i r.a “aku senang  dia berdo’a dengan ini”:
“ Semoga Allah memberi pahala pada pemberianmu, dan dijadikan-Nya sebagai alat pensucimu dan semoga memberkahinya bagimu.”
Dan bila tidak berdo’a zakatnya tetap sah
Al-Majmu’ VI/169

SEBUAH FAIDAH
Kata Al- Allamah Asy-Sya’roni dalam kitabnya AL-MIZAN halaman 59 :
1.    Wajib atas setiap muqollid jangan mendebat atas pendapat mujtahid baik yang meringankan atau memberatkan, karena pendapat mujtahid itu tidak diluar qowa’id agama
2.    Janganlah kamu menolak atas mengamalkan pendapat seseorang mujtahidin, karena mereka tidak mengeluarkan pendapat pendapatnya kecuali setelah betul betula hati hati untuk dirinya dan umat.
3.    Kita tidak membeda bedakan antara para Imam Mazhab dengan dasaar tidak tahu dan fanatisme, kartena orang yang membeda bedakan antara pada Imam seperti membeda bedakan para Rasul .
Al- Mizanul Kubro 59

MEMBERI FATWA DENGAN MAZHAB LAIN
Kata Ibnu Hajar dalam fatawi 220:
Boleh mengamalkan dan memberi fatwa dengan mazhab lain bila dia betul betul memahaminya dan memberitahukan kepada Imam yang ditaqlidinya (diambil pendapatnya). Alasannya karena memberi fatwa pada zaman akhir ini tiada lain hanya menukil dan riwayat. Karena sudah tidak ada lain mujtahid dalam semua tingkatan sejak beberapa waktu yang lalu, sebagaimana dijelaskan bukan oleh seorang dua orang ulama. Jadi tidak beda antara mengambil hukum dari imamnya atau lainnya
Al –Fawaidul Madaniyyah

BOLEH MEMBERI FATWA DENGAN MA’NA IRSYAD
(MEMBERI PELAJARAN)
Ketahuilah bahwa menurut wajah ashoh dari pendapat ulama mutaakhirin seperti syaikhy Ibnu Hahar dan lainnya : “ boleh pindah dari satu mazhab ke mazhab lain dalam mazhab empat yang mudawwan meski hanya mengikuti selera”. Sama saja pindah dalam satu masalah atau selamnya meskipun dia memberi fatwa atau menjatuhkan hukum atau beramal beda dengan mazhabnya, asal tidak mengakibatakan Talfieq (yaitu melakukan amal antara dua mazhab yang mengkibatkan tidak sah menurut dua mujtahidnya)
Al- Majmu’VII/49

(Sah Zakat) dengan ada niat setelah memisahkannya atau setelah menerima jadi wakil sebelum dibagikan (kepada Mustahiq) bila seseorang menyerahkan hartanya kepada wakilnya untuk shodaqoh sunat, kemudian dia niat zakat dengan harta itu sebelum dibagikan oleh wakilnya, kemudian dibagikan oleh wakil sebagai zakat maka harta itu sah jadi zakat bila dibagikannya kepada mustahiq. Adapun niat zakat sebelum memisahkan atau menyerahkan kepada wakil itu tidak sah.;
Nihayatuzzain 178

(Dan boleh) sebagaimana dikatakan oleh Al-Jurjani (bagi semua) pesero (mengeluarkan zakat perseroannya tanpa izin pesero yang lain) dari situ dapat difahami bahwa niat zakat salah seorang pesero cukup mengganti niat pesero yang lainnya, hal ini bila mengeluarkan dari harta perseroan
Dan boleh mewakilkan untuk membayar zakat, karena zakat itu kewajiban harta, maka boleh mewakilkan pelaksanaannya seperti menyhelesaikan utang piutang adamiyyin, karena itu mewakilkan kepada lafor atau kanak kanak yang mumayyiz (dalam memberikan zakat kepada mustahiq yang ditentukan)

(dan) boleh kepada pemilik nishab (ta’jil atau mempercepat zakat)  pada harta hauli atau yang zakatnya tahunan, sebelum genap haulnya, dalam harta yang telah masuk (tapi belum genap) haulnya dan telah mencapai nishab. Karena Rasulullah SAW memberi izin kepada sayyidina Abbas r.a untuk ta’jil HR. Abu Dawud dan Al-Hakim
Dan karena itu zakati wajib dengan dua sebab (nishab dan haul) jadi boleh didahulukan atas salah satu dua sebabnya, seperti mendahulukan kaffaroh (sumpah) atas melanggarnya.

Dan tempat diizinkan ta’jil ini pada selin harta orang yant diwakili (seperti kanak kanak) adapun harta tersebut tidak boleh wali menta’jil zakatnya (baik zakat mal atau zakat fithrah)

Tapi bila wali membayar zakat dengan hartanya, maka boleh ta’jil, tetapi tidak boleh menagihnya dikemudian hari, meskipun ada niat akan menagihnya, karena wali hanya boleh menagih kepada anak anaknya yang dibawah perwaliannya dalam hal hutang piutang  yang dipergunakan untuk kebutuhan anaknya

Dan tidak boleh ta’jil zakat sebelum nishab dalam menzakati bendanya seperti seseorang memiliki 100 dirham kemudian ta’jil mengeluarkan 5 dirham agar menjadi zakat bila sempurna nishab dan tiba haul. Dan kebetulan pada jatuh haul itu mencapai nishab 200 dirham,  maka itu tidak cukup untuk zakat (jadi tetpa dia berkewajiban mengeluarkan 2½%  lagi sebagai zakat ‘ainiah) karena pada waktu mengeluarkan 5 dirham tadi belum ada sebab membayarkan uang pembelian sebelum jual beli atau membayar diyat sebelum pembunuhan atau membayar kaffaro sebelum sumpah.
Lain halnya zakat tijaroh (bukan ‘ainiah) maka boleh saja ta’jil pada zakat tijaroh, dengan dasar yang telah dahulu yaitu bahwa nishab pada zakat tijaroh diperhitungkan pada akhir haul saja. Bila membeli barang seha4rga 100 dirham, kemudian ta;jil untuk 3\200 dirham, atau membeli barang dengan harga 200 dirham kemudian ta;jil untuk 400 dirham, dan pada jatuh haul harta dagangannya mencapai 200 atau 400 dirham, maka zakat tersebut cukup atau sah.
Mungkin ulama memaafkan adanya sedikit keraguan dalam niat, karena asalnya belum ada penambahan harta (pada waktu ta’jil) karena keperluan ta’jil saja. Karena kalau tidak ada pemaafan, ta’jil tidak boleh sama sekali, sebab dia tidak tahu bagaimana keadaannya pada waktu jatuh haul.
Tidak boleh ta’jil zakat untuk dua tahun lebih, maka hanya sah untuk tahun pertama saja, (apakah dibeda bedakan untuk tiap tahun atau tidak sama saja apakah dibedakan bagian zakat tiap tahun atau tidak) tetap yang sah hanya untuk tahun pertama.
Dan haram mengakhirkan zakat setelah tamakkun (zakatnya telah ada dan mustahiq telah ada pula ) pemilik harus bertanggungjawab atau mengganti zakat bila rusak setelah tamakkun.
Nihayatuzzain 179

Dan keduanya kewajiban : memberikan zakat kepada mustahiq. Jadi zakat tidak boleh diberikan kecuali kepada mustahiqnya, yaitu delapan ashnaf yang disebut dalam firman Allah SWT
“zakat itu hanya untuk para faqir, miskin, amilin, atas zakat, muallafah, dan dalam (pembebasan) riqob, dan ghorimin, dan pada sabilillah dan ibnu sabil”
Penjelasan ashnaf atas tertib ayat yang mulia demikian :
Faqir ialah mereka yang tidak punya harta dan tidak punya ysaha yang layak dan halal yang kedua (usaha dan harta) tidak memadai kebutuhannya berupa makanan, pakaian dan tempat tinggal dan lainnya yang amat diperlukan yang layak dengan kedudukannya dan kedudukan keluarganya. Sebagai contoh : orang yang membutuhkan 10 tiap harinya, tetapi hanya memiliki atau menghasilkan kurang dari 5. yang dimaksud haram tidak menghalangi kefaqiran, meskipun berkecukupan. Jadi tetap dia boleh menerima zakat, dan dapat difahami bahwa mereka orang yang faqir yang tidak biasa keluar rumah dan tidak biasa berusaha boleh menerima zakat inilah qaul mu’tamad
Orang yang bisa usaha tidak faqir, meskipun tidak melakukan perusahaan (pekerjaan) bila dia menemukan orang yang mau mempekerjakannya dandia kuat melakukan pekerjaan tersebut, serta layak baginya dan halal hukumnya.

Orang miskin ialah orang yang mempunyai kekayaan atau perusahaan yang layak baginya (dan halal) yang mencukupi kebutuhannya  bila hidup sxederhazna, tapi tidak mencukupi bila hidup wajar (apalagi bila hidup mewah) seperti orang yang tidak cukup kecuali 10 dan dia memiliki 5 atau lebih (dibawah Kecukupannya).

Kefaqiran atau kemiskinan seseorang terhalang oleh kecukupannya dengan nafqah wajib yang mudah mendapatkannya, tetapi bila sulit

PENJELASAN ASHNAF ATAS TERTIB AYAT YANG MULIA DEMIKIAN

1.    Faqir
Ialah mereka yang tidak punya harta dan tidak punya usaha yang layak dan halal yang keduanya (usaha dan harta) tidak memadai kebutuhannya berupa makanan, pakaian dan tempat tinggal dan lainnya yang amat diperlukan yang layak dengan kedudukannya dan kedudukan keluarganya. Sebagai contoh :orang yang membutuhkna 10 tiap harinya, tetapi hanya memiliki atau menghasilkan kurang dari 5 . yang dimaksud dengan layak itu ialah yang halal dan pantas baginya. Jadi usaha yang haram tidak menghalangi kefaqiran meskipun berkecukupan. Jadi tetap dia boleh menerima zakat, dan dapat difahami bahwa mereka orang yang faqir yang tidak biasa keluar rumah dan tidak biasa berusaha boleh menerima zakat. Inilah qaul mu’tamad.
Orang yang bisa usaha tidak faqir, meskipun tidak melakukan perusahaan (pekerjaan) bila dia menemukan orang yang mau memperkerjakannya dan dia kuat melakukan pekerjaan tersebut, serta layak baginya dan halal hukumnya.
Orang miskin ialah orang yang mempunyai kekayaan atau perusahaan yang layak baginya (dan halal) yang mencukupi kebutuhannya bila hdup sederhana, tapi tidak mencukupi bila hidup wajar (apalgi bila hidup mewah) seperti orang yang tidak cukup kecuali 10 dan dia memiliki 5 atau lebih (dibawah kecukupannya).
Kefaqiran atau kemiskinan seseorang terhalang oleh kecukupannya dengan nafqah wajib yang mudah mendapatkannya, tetepi bila sulit mendapatkannya, seperti suaminya miskin (tidak memberi nafqah atau tidak bisa memenuhi nafqah) maka istri boleh menrima zakat utuk keperluannya, dan istri yang tidak tercukupi nafqahnya karena dia rakus (banyak makannya) boleh menerima zakat untuk mengeyangkan makannya (meskipun dari zakat suaminya)
Dan bila seseorang mempunyai perusahaan yang layak, tapi karena dia sibuk dengan tholab ilmu syara’ yang mudah berhasilnya, namun bila dia berusaha(baik dangaatau kuli) tentu tholab ilmu syara’nya terganggu. Boleh baginya menerima zakat. Kata sebagian ulama “dalam keadaan seperti itu, wajib bagi ayahnya memberi nafqahnya”.
Dan tidak terhalang kefaqiran dan kemiskinan seseorang dengan mempunyai rumah tinggal yang dibutuhkan dan layak baginya dan tidak terhalang dengan pakaian pakaiannya meskipun untuk berdandan, juga tidak terhalang dengan kitab kitab meskipun banyak karena banyaknya fan fan ilmu, apabila memiliki banyak kitab pada suatu fan maka harus dijual, kecuali bagi guru maka boleh dimiliki semua kitab,dan bagi bukan guru jual semua kitab dan sisakan kitab mabsuth (besar) saja.
Dan kefaqiran tidak terhalang dengan memiliki harat yang jauh dua marhalah (80,6 km) atau lebih, atau harta yang ada ditempattapi terhalang atautidak dapat mempergunakannya atau dihutang oleh orang lain yang belum jatuh temponya, maka dia boleh diberi zakat sampai dapat mempergunakannya atau jatuh temp piutangnya, sebabdia selama ini faqir miskin.
Dapat difahami dari keterangan yang lalu, bahwa faqir lebih repot daripada miskin.
Dan amilin atas zakat, terdiri dari sa’i yaitu yang menagih zakat dan katib yang mencatat zakat dari para muzakki, dan qosim yang membagikan zakat kepada mustahiqqin dan hafidz adalah bendaharwan dari hasib yangmenghitung pemasukan zakat, sedangkan qodli adalah pejabat hukum dan wali adalah kepala wilayaah itu tidak termasuk amilin atas zakat. Gaji mereka dari 1/25 dana kesejahteraan fai atau ghonimah (kas negara)
Muallaf itu ada empat golongan :
1.    Muslim baru yang belum kuat niatnya dalam Islam dan pada kaum muslimin
2.    Yang masuk Islam dan niatnya telah kuat pada Islam dan muslimin, serta dia mempunyai wibawa besar dikaumnya, diharapkan dengan diberinya zakat kaumnya akan tertarik masuk Islam.
3.    Orang masuk Islam niatnya telah kuat pada Islam dan muslimin, serta dia mempunyai kekuatan menahan serangan kuffar.
4.    Orang masuk Islam niatnya telahkuat pada Islam dan muslimin, serta dia mempunayi kekuatan menahan serangan para pembangkang zakat
Tetapi dua golongan terakhir ini diberi zakat bila dana zakat yan diberikan kepada mereka lebih ringan daripada dana menyiapkan tentara untuk keperluan yang sama.
Riqob adalah para hamba sahaya yang mukatab (menyicil membeli dirinya dari tuannya) dengan aqad kitabah yang sah.
Mereka yang diberi zakat sebagai bantuan memerdekakan dirinya, bila dia tidak memiliki dana untuk melunasi cicilannya, walaupun dia bisa usaha. Adapun mukatab muzakki, maka jangan diberi zakatnya, karena hakikatnya keuntungan itu kembali kepada muzakki serta keadaan mukatabitu masih milik muzakki (jadi seperti muzakki memberi zakat kepada dirinya sendiri)
Ghorimin terdiri atas 3 golongan:
1. yang punya  utang pribadi untuk keperluan yan mubah atau wenang (ibadah atau bukan) meski akhirnya dipergunakan dalam kema’siatan, (seperti minuman keras ) tapi dia telah taubat, dan diduga taubatnya benar, atau meminjamnya untuk kema’siatan tapi dipergunakan untuk mubah. Kesemuanya ini bagian pertama, boleh diberi zakat bila tidak mampu membayar(tang yang jatuh tempo tapi tidak punya untuk membayar). lain halnya orang yang mengutangnya untuk ma’siat dan dipergunakan pada ma’siat pula dan belum taubat, demikian juga yang tidak membutuhkan bantuan.
Orang yang berutang karena menyelesaikan sengketa yaitu ada sesuatu antar penduduk, seperti ada pembunuhan yang tidak diketahui pembunuhnya, kemudian orang saling tuduh, kemudian ada orang memikul diatnya dengan mengutangnya. 
Demi meredakan fitnah, orang tersebut (ghorimin) berhak diberi zakat untuk membayar utangnya, meskipun kaya, supaya orang mau berbuta kebaikan seperti itu.
Orang yang berutang demi menjamin orang lain, maka diberi zakat bila utangya jatuh tempo dan dia serta orang yangdijaminnya tidak mampu membayar, atau dia sendiri tidak mampu membayar, sedangkan menjaminnya tanpa izin yang dijamin, lain halnya bila seixin yangdijamin danyang dijainnya mampu membayar, maka orang yang menjamin itu tidak boleh diberi zakat, karena bisa menagih kepada yang dijamin.
Fisabilillah yaitu pejuang relawan dengan jihad li’ilaai kalimatillah, diberi zakat meskipun dia kaya, karena membantu atas perjuangan.
Ibnu sabil yitu orang yang mengadakan perjalanan dari negeri zakat lewat ke neger izakat dalam perjalanannya, maka diberi zakat kalau dia membutuhkandantidak ma’siat dengan perjalanannya.
Bagi yang tahu atau menduga kuat bahwa seseorang itu mustahiq atau bukan mustahiq, maka hendaknya mempergunakan pengetahuannya atau dugaannya yang kuat, dan bagi orang yang tidaktahu atau tidak punya dugaan kuat tentang seseorang,  bila seseorang itu mengaku sebagai yang lemah iman ( muallaf) atau faqir, atau miskin, atau mengaku ghozi (relawan) fisabilillah, atau ibnu sabil, maka bisa diterima (pengakuannya) tanpa sumpah.
Dan bila seseorang mengaku banyak keluarga (tanggungan), atau mengaku hartanya habis (jatuh pailit) padahal dikenal kaya, atau mengaku amilin atau menagku mukatab. Atau mengaku ghorim atau mengaku muallaf selain yanglemah iman (yang kuat iman, tapi berwibawa dikaumnya, bisa menarik iman kaumnya,atau yangkuat imannya serta bisa dipakai menghzadang kafirin pembangkang zakat) maka mereka tidak bisa dibenarkan begitu saja, tapi harus ada saksi yang memenuhi syarat kesaksian.
Kata Ibnu Ujail Al- Yamani : ada tiga masalah dalam zakat yang difatwakan beda dengan mazhab :
Naglu atau memindahkan zakat
Memberikan zakat seseorang kepada seseorang, dan
Memberikan kepada satu ashnaf
Katanya seandainya Imam Syafi’i masih hidup tentu memfatwakannya. Dansekelompok ulama memilih pendapat boleh memberikan zakat fithrah hanya kepada tiga orang faqir atau miskin, dan ulama lainnya membolehkannya kepada seorang (faqir atau miskin). Sebagian ulama panjang sekali pembelaannya kepada qaul ini.
Nihayatuzzain


TANBIEH
Apa yang telah menjadi ketetapan bahwa semua ashnaf harus merata kebagian zakat itu adalah qaul mu’tamad dalam mazhab . karena “hasyr” yang dimaksud dalam ayat “Innamasshodaqotu” menurut Imam Syafi’i r.a. “Zakat hanya diberikan kepada ashnaf delapan” bukan kepada yang laindan bukan kepada sebagiannya, tapi wajib merata. Tidak ragu lagi bahwa hal tersebut (merata semuanya) mengandung kesulitan, terutama pada zakat fithrah. Sedangkan arti ayat menurut Imam Malik r.a dan Abu Hanifah r.a “zakat itu hanya diberikan kepada mereka, tidak boleh diluar mereka” dan ini menunjukkan tidak perlu merata, jadi boleh saja memberikan zakat hanya kepada satu ashnaf, dan tidak merata ke seluruh ashnaf yang ada.
Apabila Imam (amilin) membagikan zakat maka tugas kewajibannya ada empat yaitu:
Membagi semua ashnaf dekapan bila semua ada
Membagi tiap warga ashnaf dengan merata bila zakatnya memadai, bila tidak, umpamanya zakat hanya sedikit, bila dibagikankepada semua masing masing tidak terpenuhi kebutuhannya, maka tidak wajib dibagi rata, tapi utamakan yang paling memerlukan.
Dibagi rata antar ashnaf secara mutlak, kecuali amilin, mereka diberi sekedar “ujrotul mitsli” (upah yang wajar)
Dibagi antara tiap anggota ashnaf, bila kebutuhannya sama.
Apabila tidak semua ashnaf ada, maka wajib merata diantara yang ada saja. Dan apabila kebutuhannya tidak sama, makamerekadiberi sesuai, kebutuhn saja.
Faqir miskin diberi kebutuhan umur ghalib yaiut 82 tahun, mereka membeli tanah dari hasil zakat itu, yang hasilnya untuk mereka. Boleh imam atau amilin memberikan mereka tanah termaksud. Aturan ini bagi faqir miskin yang jompo tidak mampu berdagang dan bekerja mengambil upah.
Adapun yang mampu berusaha kerajinan atau mengambil upah maka dibelikan alat alatnya.
Yang mampu berdagang mereka diberikan modal untuk berdagang yang layak baginya, yang keuntungannya memenuhi kebutuhan biasanya. Mukatab dan ghorim (yang bukan mendamaikan sengketa) diberi secukup kebutuhan membayar utangnya.
Ibnu sabil diberi ongkos untuk sampai untuk sampai kepada tujuannya ( atau tempat hartanya). Mujahid sukarelawan (lil I’lai Kalimatillah) diberi kebutuhannya dalam perangnya, dan disiapkan kendaraan (bila tidak kuat berjalankaki atau jaraknya jauh) alat mengangkut bekal dan perlengkapan nya bila tidak wajar dipikul sendiri, seperti ibnu sabil.
Muallaf diberi sesuai dengan pertimbangan Imam atau Amilin.


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar